Ini hanya sebuah ungkapan, sebab tidak pernah diketahui sebenarnya apakah memang sebuah taktik atau bukan. Yang jelas, kejadian ini dilakukan oleh seorang permaisuri dari kalangan inggil (yang dalam bahasa Jawa artinya tinggi).
Kalangan inggil punya banyak cerita penuh misteri, sarat makna dan filosofi yang mumpuni.
Alkisah, Sri Susuhunan Pakubuwono III yang beristrikan Ratu Beruk (Kanjeng Ratu Kencana) berniat untuk memperistri selirnya. Zaman itu, memang sudah menjadi suatu hal yang lumrah bagi seorang raja untuk memiliki satu permaisuri dan beberapa selir.
Namun sebagai wanita biasa, keputusan Sri Susuhunan Pakubuwono III ini cukup membuat Kanjeng Ratu Kencana merasa sedih dan terpukul. Namun apa daya. Di zaman itu, ketika raja sudah bersabda, tak ada satu pun yang dapat menggagalkan rencananya.
Mengadu ke LSM pelindung hak-hak perempuan atau menyewa pengacara? Semua tidak ada gunanya.
Di tengah kesedihan, dan kegalauannya, diam-diam Ratu memperhatikan satu titik terang di langit sambil berdoa dan berharap semoga rencana tersebut batal....
Satu titik terang itu begitu memukau Ratu. Keindahannya membuat Kanjeng Ratu Beruk melukiskan bintang itu di kain mori yang tergantung di gawangan dengan cantingnya. Deretan titik terang serupa bintang pun menghiasi.
Satu demi satu, baris demi baris, bintang terang itu pindah dari langit malam ke sehelai kain mori berlatar kelam.
Sri Susuhunan Pakubuwono III diam-diam memperhatikan proses itu. Rasa takjub terbersit dalam hatinya. Kanjeng Ratu Kencana, ibu dari anak-anaknya adalah perempuan yang sangat mengabdi, punya kesabaran yang sangat tinggi, dan rasa welas asih pantang berselisih.
Kesabaran Ratu berbuah kebahagiaan. Rasa cinta Raja kembali tumbuh.
Titik-titik bintang berbaris di kain mori diberi nama truntum, yang berasal dari kata tinaruntum yang artinya tumbuh. Semenjak itu, kain batik dengan motif truntum selalu dipakai ketika orang tua akan menikahkan putra-putrinya. Dengan harapan, cinta mereka tidak akan pernah pupus dan akan selalu tumbuh seperti cinta Sri Susuhunan Pakubuwono III kepada Kanjeng Ratu Kencana.
Saya menyebut motif batik truntum sebagai motif batik antipoligami.
Artikel Pilihan Redaksi
Tanya Dokter
PEDOMAN KOMENTAR
Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.
Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.
Artikel Terpopuler
Hari Ini di Yahoo!
1 - 8 dari 39
POLL
Seberapa sering Anda memasak sendiri di rumah (mi instan tidak termasuk, ya)?
Memuat...
GALERI FOTO
1 - 6 dari 25


