Ghiboo.com - Bullying seolah menjadi isu yang tidak pernah berhenti jadi sorotan. Beberapa waktu lalu, sempat video bullying di kalangan siswa sekolah menengah.
Di kalangan pengguna internet marak istilah cyber bullying saat seseorang diserang beramai ramai hanya karena pendapatnya nyeleneh.
Meski kerap terjadi di lingkungan sekolah pada usia remaja, bukan tidak mungkin perilaku serupa masih ditemui di tempat kerja Anda sekarang. Bagaimana mengenalinya?
"Pada dasarnya bully itu adalah tindakan terencana untuk menyakiti seseorang terus-menerus, dilakukan secara sistematis dan menimbulkan rasa terteror dalam diri si korban. Jika terjadi di kantor, mungkin kita lebih mengenalnya sebagai politik kantor," jelas Ike Sugianto, psikolog yang juga aktif dalam kampanye anti bullying ke sekolah-sekolah.
Office Bullying
Perilaku bullying di kantor lebih cenderung ke arah verbal bully dan social bully. "Bully fisik seperti toyor-toyoran kan sudah tidak terjadi di usia dewasa," kata Ike.
Bully verbal bisa berupa bentakan kasar, intimidasi, gosip, fitnah, atau gesture kecil seperti senyuman sinis. Sedangkan social bully bisa berbentuk pengucilan seperti tidak pernah diajak makan siang atau saat kerja tim selalu diberi bagian tugas yang tidak mengenakkan.
Bagaimana jika dilakukan atasan? Bukankah atasan memiliki hak untuk memberi perintah? Membedakan bully atau bukan sebenarnya cukup mudah. Gary Namie, PhD, salah satu pendiri Workplace Bullying Institute mengungkapkan bullying adalah sesuatu yang terus menerus terjadi bukan sekadar karena atasan Anda sedang mengalami hari yang buruk setiap saat.
"Bully itu sebenarnya semua tindakan yang karakteristiknya tidak respek. Semua tindakan yang dirasa merendahkan ya itu namanya di-bully. Bisa saja atasan memberi banyak pekerjaan tapi sudah selesai dia bilang 'good job!'. Anda pun mengerjakan juga suka cita. Tapi ada juga yang tidak memperoleh apresiasi sama sekali, mengerjakan pun jadi tertekan," jelas Ike.
Kuncinya perhatikan kembali job desk Anda. Apakah semua pekerjaan yang terus ditimpakan pada Anda sudah tercantum dalam kontrak? Apakah Anda mengerjakannya dengan tertekan? Apakah Anda mendapat apresiasi dari hasil kerja Anda?
Cyber Bullying
Selayaknya dunia nyata ruang di media sosial pun rentan pergesekan antar individu. Bullying termasuk di antaranya. Namun Enda Nasution, pengamat media sosial, mengungkapkan saat ini seakan terjadi pergeseran makna bully di dunia maya.
"Bullying yang sebenarnya itu kan si korban dalam posisi yang tidak berdaya. Kalau terjadi debat ya bukan di-bully namanya. Walau keadaannya satu orang lawan banyak orang," ujar Enda.
Menurut Enda, cyber bully yang sesungguhnya adalah jika format bullying di dunia nyata dibawa ke ruang maya. "Misalnya pelaku bully membuat laman atau blog yang isinya memfitnah korban lengkap dengan mengunggah foto-foto, nomor telepon, dan email yang bersangkutan," ujar Enda.
"Di dunia kerja bukan tidak mungkin gosip dan fitnah dilakukan lewat ruang maya seperti media sosial ataupun broadcast message," tambah Ike.
Di ruang maya, pelaku bullying cenderung lebih 'sadis' karena karakteristik pengguna internet lebih berani mengekspresikan emosinya. "Ini bisa jadi karena format komunikasi yang tidak langsung, bahkan bisa anonim," ujar Enda.
Ia pun menggarisbawahi konsekuensi dari media sosial yang memudahkan untuk membentuk grup. "Modal satu hashtag atau satu facebook page langsung jadi deh dukung si A, serang si B dan sebagainya," ujar Enda.
Namun jika suatu facebook page dibuat untuk menurunkan kedudukan seseorang di kantor, Enda berpendapat itu lebih tepat dikatakan konspirasi.
Mengapa Bullying Terjadi? Ike mengungkapkan, baik pelaku maupun korban sama- sama memiliki andil dalam terjadinya bullying. "Tidak bisa dikatakan 100 persen tanggung jawab si pelaku ataukah korban. Tapi masalahnya kita kan tidak bisa mengubah orang lain. Jika kita korban, mengubah reaksi dan diri sendiri lebih mudah dilakukan," ujar Ike.
Perilaku bullying terjadi karena berbagai macam faktor:
Menurut Ike, sebagian besar pelaku bully berasal dari keluarga yang punya pola asuh yang tidak mengapresiasi. Menuntut terlalu banyak untuk sempurna. Itu menimbulkan rasa tidak aman secara psikologis dalam diri orang itu jadi dia merasa perlu mencapai satu titik pengakuan pembuktian dengan bersaing dengan orang lain. Atau menempatkan dirinya di atas orang lain.
Berbeda dengan bully yang terjadi di sekolah di mana stereotip si korban adalah seorang kutu buku yang culun dan sebenarnya bukan ancaman, Gary mengatakan di kantor, korban bully biasanya adalah karyawan yang terlihat potensial dan kompeten dengan karakteristik tertentu.
Misalnya meski terlihat cemerlang namun si korban cenderung tidak berani melawan atau melapor karena tidak mau dilabeli se bagai anak manja atau pengadu. Ia pun cenderung tidak mau mengambil risiko kehilangan pekerjaan.
(Majalah Good Housekeeping edisi Maret 2012)



