Apa Itu Campak Jerman?

Ghiboo.com - Penyakit ini pertama kali didiagnosis oleh seorang fisikawan Jerman pada pertengahan abad 18. Karennya disebut campak Jerman.


Penyebabnya adalah virus Rubela (latin) yang jika diartikan berarti bintik merah kecil.


"Sampai kapan pun, sahabat saya tidak diperbolehkan hamil sejak ditemukan adanya virus Rubela di dalam tubuhnya. Sebab risikonya, si bayi akan mengalami cacat bawaan. Anehnya, sahabat saya itu mengaku tidak pernah terkena penyakit rubela," seloroh seorang ibu kepada teman-temannya.


Dr. Femmy Nurul Akbar, SpPD yang ditemui disela-sela tugas prakteknya sebagai Spesialis Penyakit Dalam di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), Jakarta Selatan menjelaskan,


"Virus Rubela adalah penyebab dari penyakit campak Jerman atau rubela. Cara penularannya menyerupai flu, yaitu melalui udara. Banyak kasus, campak Jerman ditularkan saat orang yang terinfeksi mengalami batuk atau bersin. Wanita hamil juga punya kesempatan menularkan virus tersebut kepada bayinya jika ia terinfeksi selama masa kehamilan," ungkap dokter Femmy.


Penyakit campak Jerman (German measles) bisa terjadi pada orang dewasa atau pada anak-anak usia 5 sampai 14 tahun. Memiliki dampak lebih ringan (mild) dan tidak fatal. Virus rubela membutuhkan waktu sekitar tiga minggu untuk berkembang biak (inkubasi), kemudian muncul sebagai gejala klinis.


Kalau menyerang orang dewasa, gejala yang ditimbulkan, seperti batuk-pilek berat, diare, demam, badan meriang serta menggigil, tulang terasa linu, sakit kepala berat, serta poliartritis (sendi-sendi kecil bengkak dan meradang).


Sedangkan pada anak, nyaris tidak memiliki gejala awal. Jika ada, biasanya berupa batuk-pilek ringan tanpa disertai mata merah maupun demam yang menyolok.


"Jika kita teliti lagi, sebetulnya pada masa-masa awal penyakit dapat dijumpai pembengkakan kelenjar getah bening di leher dan di belakang telinga si anak. Kalau ditekan akan terasa nyeri. Hari berikutnya, keluarlah bercak merah khas campak yang bermula di wajah lalu turun ke leher, dada, punggung sampai ke tangan dan kaki," ucap dokter Femmy.


Penyebaran bercak-bercak merah tersebut sangat cepat. Proses muncul lalu hilangnya adalah tiga hari sehingga penyakit ini dikenal pula dengan three-day measles atau 'campak tiga hari'. Ciri khas lainnya, begitu bercak-bercak mencapai
kaki, biasanya yang di sekitar wajah dan leher mulai hilang.


"Karena terjadi pembengkakan pada limpa, penderita menjadi malas makan. Namun jangan khawatir, pada fase penyembuhan, bekas dari bercak-bercak ini hanya mengelupas ringan dan jarang menimbulkan bekas pada kulit penderita."


● Bahaya untuk Janin
Komplikasi yang ditimbulkan oleh campak Jerman terhitung sangat jarang. Namun, perlu diwaspadai apabila menyerang wanita hamil karena dapat menular pada janin melalui plasenta. Virus Rubela dapat menimbulkan sindrom rubela kongenital pada bayi saat dilahirkan. Sindrom ini membuat mata bayi mengalami katarak, ada ketulian, dan pengapuran di otak sehingga anak bisa mengalami keterbelakangan berkembang.


Kalau ibu hamil terkena virus pada trimester I kehamilan, bisa terjadi keguguran.


"Meski akibatnya sangat banyak pada janin, virus Rubela tidak akan bertahan sampai lama di dalam tubuh kita. Jadi sangat tidak benar apabila seorang wanita subur terkena rubela, sampai kapan pun tidak boleh hamil. Penting bagi ibu hamil yang belum pernah terkena campak Jerman untuk menghindari sebisa mungkin pemaparan dan kontak dengan penderita. Kalau sudah pernah kena, biasanya akan kebal, terutama kalau kondisi tubuhnya fit banget. Jika sudah terlanjur terkena kontak atau muncul gejala, segeralah ke dokter untuk penanganan lebih lanjut," saran dokter Femmy.


● Pencegahan
Pemberian vaksinasi rubela merupakan cara untuk menanggulangi infeksi rubela. Sangat disarankan melakukan imunisasi MMR (Measles Mumps Rubella) kepada setiap anak, terutama anak perempuan, untuk mengantisipasi terinfeksi rubela serta
melindungi janin yang dikandungnya kelak. Kekebalan itu nantinya akan diturunkan kepada bayinya hingga berusia sembilan bulan.


Vaksin rubela juga dapat diberikan bagi orang dewasa terutama wanita yang tidak sedang hamil atau baru akan merencanakan hamil tiga bulan setelah pemberian vaksin. Vaksin merupakan virus Rubela hidup yang dilemahkan dan dapat berisiko menyebabkan kecacatan meskipun sangat jarang. Pria juga perlu melakukannya untuk mencegah agar tidak terserang rubela dan menulari istrinya yang nantinya hamil.


Sebagai tambahan informasi, vaksin untuk virus ini pertama kali dilisensi di Amerika Serikat tahun 1969. Sejak itu, tingkat infeksi rubela menurun secara dramatis.



(Majalah GoodHouseKeeping Indonesia, edisi Maret 2011)

Memuat...

Tanya Dokter

  • Makanan Penghilang Sakit Kepala
    Makanan Penghilang Sakit Kepala

    Perlu Anda ketahui bahwa ada beberapa makanan yang dipercaya dapat menghilangkan rasa sakit kepala Anda. …

  • Kehamilan Setelah Keguguran
    Kehamilan Setelah Keguguran

    Keguguran pada kehamilan biasanya terjadi sebelum usia kandungan 20 minggu. Lalu apa saja yang harus diperhatikan jika ingin hamil lagi setelah mengalami keguguran? Dan, mengapa seseorang yang ingin hamil lagi setelah mengalami keguguran harus menunggu selama tiga bulan? …

  • Mitos dan Fakta Antibiotik
    Mitos dan Fakta Antibiotik

    Banyak mitos-mitos yang beredar mengenai antibiotik yang sebaiknya anda ketahui terlebih dahulu. …

  • Segudang Manfaat Teh Hijau
    Segudang Manfaat Teh Hijau

    Dibalik rasanya yang lezat, teh hijau atau green tea rupanya juga menyimpan segudang manfaat yang baik untuk tubuh …

  • Makanan Penurun Kolesterol
    Makanan Penurun Kolesterol

    Jika ingin sehat, Anda memang diharuskan mengonsumsi makanan bergizi untuk meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) dan menjauhi makanan yang dilarang. …

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.