Begini Memilih Batik Disesuaikan Bentuk Tubuh dan Warna Kulit

Laporan Wartawan Tribun Jakarta,
Daniel Ngantung

TRIBUNNEWS.COM
Seiring waktu berjalan, batik kian diapresiasi oleh masyarakat di negeri sendiri. Salah satu hasil seni wastra yang dulunya sempat ditinggalkan ini, kini kembali eksis.

Maraknya orang Indonesia, tak terkecuali warga negara asing, yang mengenakan batik sebagai pakaian untuk aktivitas sehari-hari, tak hanya sebagai busana pesta saja, adalah salah satu buktinya.

Busana berbahankan kain batik pun marak bermunculan dalam ragam motif dan model yang tentunya juga disesuaikan dengan tren mode Tanah Air dan dunia.

Para konsumen pun dihadapkan dengan banyak pilihan. Tak ayal, konsumen dibuat bingung dalam memilih batik baik sesuai karakter tubuh maupun keperluannya.

Reni Kusumawardhani, dalam buku terbarunya "How to Wear Batik" terbitan Gramedia Pustaka Utama, ingin memberikan solusinya.

Kepada TRIBUNnews.com, penulis buku "Gaya Hijau dengan Tie Dye Pashmina" dan "Updo - 24 Simple Hairstyle" itu berbagi kiat memilih batik sesuai bentuk tubuh dan profesi si pemakai.

Bagi perempuan berbadan gemuk yang kurang percaya diri sengan bentuk tubuhnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

"Pilih busana yang motif batiknya mikro, rapat-rapat atau kecil-kecil. Kalau motif besar akan membuat tubuh terlihat lebih gemuk. Motif truntum bisa jadi pilihan," ujarnya saat acara peluncuran bukunya tersebut di Museum Tekstil, Jakarta, Jumat (8/2/2013).

Soal warna pun perlu diperhatikan. Reni menyarankan mengenakam batik berwarna dalam atau gelap.

Warna kulit bisa jadi bahan pertimbangan juga. Menurut Reni, ada dua jenis warna yang perlu pemakai ketahui sebelum memilih warna yang pas, yaitu warna dingin dan hangat.

Warna dingin terdiri dari warna-warna keluarga biru seperti ungu dan pink. Sedangkan warna hangat terdiri dari oranye, kuning, pitch dan cokelat tanah.

"Bila warna kulit pemakai terlihat lebih cerah saat mengenakan warna biru, berarti dia cocok dengan warna dingin. Kalau warna oranye, berarti warna hangat," katanya.

Hal lainnya adalah soal okasi, untuk keperluan apa busana batik dipakai,  misal sebagai busana kerja.

"Ini harus disesuaikan dengan profesi. Kalau bekerja di kantor pemerintahan, yang notabenenya lebih formal, pilih busana batik yang konservatif, misal warnanya lebih kalem, siluet busananya pun harus sederhana," ungkapnya.

Sementara bagi mereka yang bekerja di bidang kreatif disarankan untuk lebih bebas bereskpresi. "Misal pilih warna yang terang dan mencolok, motifnya yang bold.  Cutting busananya pun bisa yang lebih berani," kata Reni.

"How to Wear Batik"
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 100 halaman
Terbit: Desember 2012
Harga: Rp 65.000,-

Laporan Wartawan Tribun Jakarta,
Daniel Ngantung

TRIBUNNEWS.COM
Seiring waktu berjalan, batik kian diapresiasi oleh masyarakat di negeri sendiri. Salah satu hasil seni wastra yang dulunya sempat ditinggalkan ini, kini kembali eksis.

Maraknya orang Indonesia, tak terkecuali warga negara asing, yang mengenakan batik sebagai pakaian untuk aktivitas sehari-hari, tak hanya sebagai busana pesta saja, adalah salah satu buktinya.

Busana berbahankan kain batik pun marak bermunculan dalam ragam motif dan model yang tentunya juga disesuaikan dengan tren mode Tanah Air dan dunia.

Para konsumen pun dihadapkan dengan banyak pilihan. Tak ayal, konsumen dibuat bingung dalam memilih batik baik sesuai karakter tubuh maupun keperluannya.

Reni Kusumawardhani, dalam buku terbarunya "How to Wear Batik" terbitan Gramedia Pustaka Utama, ingin memberikan solusinya.

Kepada TRIBUNnews.com, penulis buku "Gaya Hijau dengan Tie Dye Pashmina" dan "Updo - 24 Simple Hairstyle" itu berbagi kiat memilih batik sesuai bentuk tubuh dan profesi si pemakai.

Bagi perempuan berbadan gemuk yang kurang percaya diri sengan bentuk tubuhnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

"Pilih busana yang motif batiknya mikro, rapat-rapat atau kecil-kecil. Kalau motif besar akan membuat tubuh terlihat lebih gemuk. Motif truntum bisa jadi pilihan," ujarnya saat acara peluncuran bukunya tersebut di Museum Tekstil, Jakarta, Jumat (8/2/2013).

Soal warna pun perlu diperhatikan. Reni menyarankan mengenakam batik berwarna dalam atau gelap.

Warna kulit bisa jadi bahan pertimbangan juga. Menurut Reni, ada dua jenis warna yang perlu pemakai ketahui sebelum memilih warna yang pas, yaitu warna dingin dan hangat.

Warna dingin terdiri dari warna-warna keluarga biru seperti ungu dan pink. Sedangkan warna hangat terdiri dari oranye, kuning, pitch dan cokelat tanah.

"Bila warna kulit pemakai terlihat lebih cerah saat mengenakan warna biru, berarti dia cocok dengan warna dingin. Kalau warna oranye, berarti warna hangat," katanya.

Hal lainnya adalah soal okasi, untuk keperluan apa busana batik dipakai,  misal sebagai busana kerja.

"Ini harus disesuaikan dengan profesi. Kalau bekerja di kantor pemerintahan, yang notabenenya lebih formal, pilih busana batik yang konservatif, misal warnanya lebih kalem, siluet busananya pun harus sederhana," ungkapnya.

Sementara bagi mereka yang bekerja di bidang kreatif disarankan untuk lebih bebas bereskpresi. "Misal pilih warna yang terang dan mencolok, motifnya yang bold.  Cutting busananya pun bisa yang lebih berani," kata Reni.

"How to Wear Batik"
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 100 halaman
Terbit: Desember 2012
Harga: Rp 65.000,-

Baca Artikel Menarik Sebelumnya

  • Fashion
    Royal Wisdom, Koleksi Spiritualis dari Iwan Tirta Private Collection 1 jam lalu
  • Kiat Memilih Sepatu Lari Sabtu, 9 Februari 2013
  • Ini Baju Favorit Ahmad Dhani Sabtu, 9 Februari 2013
  • Pelatihan IT Kepada Anak Muda Digelar Dibo Piss dan Bank Mandiri Jumat, 8 Februari 2013
  • Santoso Setyadji: Happy Puppy Gunakan Software Asli Microsoft Jumat, 8 Februari 2013
  • Mom and Baby
    Si Buah Hati Lahir, Sewa Perlengkapan Bayi Saja Biar Hemat! Jumat, 8 Februari 2013
  • Fashion
    Ratu Kecantikan Ini Jatuh Cinta pada Batik Cirebon karena Alasan Ini Jumat, 8 Februari 2013
  • Fashion
    Ahmad Dhani Pelorot Celana Jins Untuk Perlihatkan Celana Dalamnya! Jumat, 8 Februari 2013

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.