Cari Tahu Arti di Balik Sebuah Ciuman!

“Pertemuan dua bibir itu menciptakan sesuatu yang ‘magis’,” kata Nila Yunita (32, traveler), saat menceritakan pengalaman ciuman pertamanya. Disebut magis, karena ciuman tanpa disadari mengubah perasaan, pikiran, sampai tingkah laku seseorang. Diam-diam, ada magnet yang sangat kuat di sana, yang berasal dari hati. “Memang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata, tapi ada sesuatu yang berbeda, yang menggelitik, membahagiakan, sekaligus membuat takut kehilangan momen itu,” Maria (29, marketing staff) mengungkapkan yang dirasakannya.

“Ciuman ibarat bahasa kasih yang maknanya lebih dalam dari sekadar ungkapan sayang secara verbal. Bahasa kasih bukan melulu soal seks. Kalau sudah hidup dalam pernikahan cukup lama, kita akan tahu bedanya. Aku merasakan kenyamanan dan kebahagiaan disayang, dicium, sehingga muncul rasa diinginkan pasangan, membuatku terasa begitu berharga dan dicintai. Candu, quality time yang tak bisa digantikan dengan yang lainnya,” aku Yosephine (34, accounting manager).

Bicara soal bibir, perannya dalam hidup kita memang luar biasa. Bukan cuma mata, telinga, tangan, dan kaki yang inti dari sebuah tubuh. Bibir yang membuat kita “hidup”. Dia yang membuat kita sanggup mengungkapkan sesuatu, mengekspresikan perasaan secara verbal dan memaknai apa yang tak bisa disampaikan lewat kata dengan ciuman. Wajar kalau kemudian ciuman diibaratkan sebagai media komunikasi antarhati. Ciuman sebagai ekspresi rasa cinta. Ciuman sebagai ukuran kenyamanan.

Mengapa bisa begitu? Lepasnya zat-zat kimia tertentu dalam tubuh saat momen romantis itu adalah kuncinya. Seorang profesor ahli Neuroscience dari Lafayette College, Wendy Hill, menjelaskan, secara ilmiah, saat berciuman kadar senyawa kimia oksitosin dan kortisol otomatis mengalami perubahan. Oksitosin yang berperan dalam keeratan hubungan akan meningkat, terutama pada laki-laki, sehingga mereka makin tertarik kepada pasangan. Sementara bagi perempuan, kortisol yang berkaitan dengan kadar stres, menurun. Itulah mengapa perempuan merasa lebih tenang dan nyaman saat berciuman dengan pasangannya, sementara laki-laki yang oksitosinnya meningkat cenderung mengalihkan ketertarikan dalam bentuk seks.

Bermacam penelitian memang mengungkapkan ciuman hanyalah pengantar menuju aktivitas seksual bagi laki-laki, sementara bagi perempuan sebagai wujud cinta atau ketertarikan. Bahkan, kemampuan laki-laki mencium dianggap sebagai penentu pasangan mau tidur dengannya atau tidak. Namun, bagaimana mengartikan kontak fisik itu, sebenarnya bergantung kesepakatanmu dan pasangan, tujuan akhir apa yang ingin dicapai, kenikmatan di ranjang atau kenikmatan secara emosional.

“Toh, ada napsu atau seks dalam cinta itu memang benar. Namun, fakta ini tidak berlaku sebaliknya, sebab napsu atau seks hanya bersifat biologis, sementara cinta bersifat emosional,” ungkap psikolog Roslina Verauli, pengajar yang juga aktif mengisi bermacam talkshow ini. Begitulah, reaksi kimia yang terjadi dari pertemuan dua bibir itu membentuk perasaan saling membutuhkan, dan keterikatan emosional. Itu mengapa ciuman begitu berarti dalam sebuah hubungan, tak lain karena ada cinta di sana. Sesederhana itu. So, sudah berciuman dengan yang dicinta hari ini, Fimelova?

Memuat...

Tanya Dokter

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.