Ganti Gula dengan Makanan Mentah

TRIBUNNEWS.COM - Gaya hidup sekarang ini hampir setiap menu atau sebagian besar asupan makanan yang kita terima adalah gula. Apalagi masyarakat kita termasuk pencinta berat karbohidrat dan gula.

Semua karbohidrat (tepung, kentang, umbi, beras, pati) akan dipecah menjadi gugus gula (glukosa). Kenaikan jumlah gula dalam darah secara otomatis akan memerintahkan tubuh mengeluarkan hormon insulin. Fungsi insulin adalah menjaga kadar gula agar tetap pada level aman.

Namun, jika kadar gula melonjak tinggi, insulin yang dihasilkan pankreas juga meroket. Otomatis tugas pankreas makin berat. Insulin ini akan menekan gula dan menyimpan gula dalam otot dan hati. Tetapi kapasitas otot dan hati terbatas. Kelebihan gula dalam darah akan diubah menjadi lemak.

Artinya tubuh gemuk bukan berarti karena mengonsumsi banyak lemak, tetapi mengonsumsi banyak gula. Agar asupan tubuh sesuai dengan kebutuhan, perlu pola makan atau diet.

Kita perlu mengubah pola makan. Sangat mungkin kita sakit karena mengonsumsi makanan yang kita doyan (menuruti lidah), bukan yang dibutuhkan oleh badan. Diet bukan hanya berdasarkan pada pantangan atau karena tidak boleh. Karena diet seperti ini tak akan bertahan lama. Mulai sekarang ubah pola makan secara sadar untuk memilih sehat dan sembuh dengan menghindari mengonsumsi gula.

Kecuali gula yang berasal dari sayur dan beberapa buah. Karena kadar gula yang tinggi dalam aliran darah akan menciptakan radikal bebas dan selanjutnya menyebabkan kolesterol buruk (LDL) teroksidasi dan hingga kemudian menimbulkan plak atau endapan pada dinding pembuluh darah.

Dokter Tan Shot Yen pemilik klinik Wellbeing di Serpong, Tangerang, Banten, menyerukan, kini saatnya mengubah pola makan dengan menyantap makanan mentah lagi.

Mengapa? Makanan matang atau mengolah makanan dengan memasak adalah produk kebudayaan. Jika makan demi kesehatan, kita harus kembali ke DNA kita. Pada dasarnya manusia hanya makan dedaunan dan sayuran mentah. Saat ditemukan api, kemudian kompor, barulah dimulai peradaban manusia termasuk cara makan dan cara memasak makanan hingga sekarang.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.