Goyang Lidah di Warung Sate dan Nasi Kebuli Abu Salim

Laporan Wartawan Tribunnews.com, M. Faizal Rizky

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Biasanya, mereka yang lagi bermasalah dengan tingginya kadar kolesterol dalam darah bakalan menghindari menu daging kambing.

Anggapan itu ada benarnya, tapi cerita bakal lain kalau menyantap menu olahan daging kambing di Warung Sate & Nasi Kebuli Abu Salim. Kata si Husein, si pengelola, rumah makan ini hanya menggunakan daging kambing asli Tegal.

Alasannya, pakan kambing Tegal adalah daun Turi. "Jadinya lemaknya sedikit dan aman bagi penderita kolesterol. Selain itu usia kambing juga tak lebih dari enam bulan sehingga daging lebih empuk," jelasnya, Minggu (25/03/2012).

Itu baru kadar kolesterolnya yang diklaim rendah. Perbedaan lainnya, satenya dalam proses pembakaran tidak menggunakan bumbu apapun. Baru setelah matang, sate yang dibanderol Rp 30 ribu per porsi ini dimakan dengan cara dicocol dengan bumbu.

Dalam sehari, rumah makan di Jalan Raya Condet No 2, Jakarta Timur, ini kerap menghabiskan lima ekor kambing sehari untuk memenuhi permintaan. "Tempat kita bisa menampung 100 orang dan ada lesehannya," tambah Husein lagi.

Olahan daging kambing tak hanya untuk sate ataupun sop saja, tapi juga untuk nasi kebuli. Tahu kan nasi ini? Itu lho, nasi yang rasanya gurih karena dimasak dengan aneka bumbu rempah mirip bumbu kari dan menggunakan minyak samin.

Meski sudah banyak orang yang bisa bikin nasi kebuli, tapi tetap ada kepercayaan nasi kebuli yang mantap biasanya dimasak sama yang keturunan Arab. Nah, pengelola restoran ini kebetulan punya silsilah Arab.

Tak heran rumah makan yang tahun lalu buka cabang di Depok ini jadi rujukan orang menikmati nasi kebuli. Apalagi wilayah rumah makan ini di bilangan Condet dikenal sebagai kampungnya orang Arab di Jakarta.

Oh ya, perlu diketahui nasi kebuli di sini tak pakai minyak samin karena tak semua orang suka minyak jenis ini karena aromanya yang menyengat. Nah, racikan rahasia ala rumah makan ini digunakan sebagai gantinya.

Begitu sudah di meja, kepulan aromanya bakalan membangkitkan selera makan. Meski warnanya mirip nasi goreng, tapi begitu masuk ke mulut, rasanya begitu kompleks. Sudah begitu, nasi kebuli yang dihargai Rp 27 ribu ini disajikan lengkap dengan daging kambing goreng.

Tambahan lagi, ada pula menu nasi kapsah yang berasnya diimpor langsung dari Arab. Bumbunya tetap sama dengan nasi kebuli, hanya lebih terasa butir-butir jintennya dan tidak memakai tomat.

Baca selengkapnya di koran digital TRIBUN JAKARTA edisi pagi, Senin 26 Maret 2012 di rubrik KULINER

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.