Haruskah Rujuk Jika Mantan Suami dan Orangtua Masih Saling Membenci?

Tanya:
Saya sudah bercerai karena suami iri hati pada ayah dan keluarga saya. Saat suami merasa tersakiti,  ia selalu mencaci maki dengan kata-kata binatang dan kata-kata kotor kepada orangtua saya. Selama proses cerai ia sempat meminta saya untuk tetap mempertahankan rumah tangga kami, namun di hatinya masih ada kebencian pada orangtua dan keluarga saya.

Ia kini meminta agar kami rujuk dan tinggal jauh dari keluarga. Sebelum bercerai, ia sudah pergi selama 7 bulan tanpa menafkahi saya dan anak dengan dalih ayah saya tidak bisa adil pada para menantunya. Sampai-sampai saya dituduh bukan anak kandung orangtua saya.
 
Di hati kecil saya ada keinginan untuk berkumpul lagi, apalagi ada anak kami usia 2 tahun. Namun orangtua dan keluarga sudah tidak merestui kami bersama lagi karena menurut mereka ia seorang yang tidak punya akhlak. Di satu sisi saya juga trauma ia akan dengan mudah meninggalkan saya lagi, karena kepergian dia selama 7 bulan itu sudah kedua kalinya, dan dengan alasan yang sama yaitu iri.
 
Apa yang harus saya lakukan?
 
Diana, 26 tahun


Jawab:

Pernikahan haruslah dibangun di atas dua hati yang saling mengharga. Setelah itu peliharalah terus rasa sayang dalam penghormatan.

Melihat dari tindakan mantan suami yang bisa berlaku kasar lewat caci maki dan kata-kata kasar, ditambah sifat iri yang terus menggerogoti, perlu pemikiran ekstra dan tindakan nyata kalau anda benar-benar ingin kembali rujuk dengannya.

Tetapi keinginannya untuk kembali bersama, perlu diapresiasi. Biar bagaimana juga dia adalah ayah dari anak Anda yang berhak mendapatkan kebahagiaan dari menyatunya kembali ayah ibunya dalam keluarga yang utuh.

Yang perlu diingat adalah jangan paksakan keutuhan kalau masih ada perbedaan yang terus menyakiti. Cobalah untuk mengajaknya bicara agar lebih tenang dan berprasangka baik terhadap Anda dan keluarga, syaratkan dia untuk menghilangkan kebiasaan berkata-kata kasar dan caci maki saat merasa tersakiti.

Kekasaran menghilangkan persahabatan, dan tidak ada cinta yang bisa tumbuh tanpa adanya persahabatan.

Pastikan juga agar dia memiliki rasa tanggung jawab dengan tidak pergi meninggalkan keluarganya tanpa alasan yang jelas. Apabila ini bisa dia janjikan (yang terwujud dalam tindakan) maka Anda bisa memulai komunikasi dengan keluarga untuk kembali menerimanya.

Apabila berbagai usaha untuk mendapatkan cinta yang nyaman tidak berhasil, maka lebih baik Anda fokus untuk memberikan cinta yang penuh kenyamanan pada anak Anda. Biarkan dia tumbuh dengan rasa sayang yang sepenuhnya, walau orangtuanya tidak sepenuhnya bersama.

Terima kasih sudah berbagi.

Stay In Love,


@HilbramDunar
Pembawa acara TV dan Radio
Penulis buku “Plastic Heaven – bukan cinta jika tak meneteskan airmata, karena sedih luar biasa atau bahagia tak terhingga”




Punya pertanyaan masalah asmara, keuangan, kesehatan, fashion, atau kecantikan? Kirim pertanyaanmu ke tanyaahli@yahoo-inc.com


***


BACA JUGA:

Bahaya hubungan di dunia maya
Teknologi internet yang mengancam pernikahan Anda
Jika kekasih akrab dengan banyak wanita
Sudah tua kok masih genit?
4 perilaku di Facebook yang paling mengganggu

Memuat...

Tanya Dokter

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.