Istana Merdeka, Kediaman Resmi Presiden RI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Selepas mengunjungi Istana Negara, rombongan "Melancong Bareng Abah Alwi: Jejak Proklamator Soekarno-Hatta", melanjutkan napak tilas dengan mengunjungi Istana Merdeka yang tak jauh dari Istana Negara.

Bangunan ini menghadap Sungai Ciliwung atau Jalan Veteran. Secara fisik, bangunan ini persis dengan Istana Negara. Bergaya arsitektur Yunani dengan ciri khas tiang penyangga berbentuk silinder yang menopang bagian atap dan teras. Keseluruhan bangunan berbentuk kubus atau persegi, dan balkon terbuka.

Bangunan seluas 2.400 meter persegi itu terbagi dalam beberapa ruang. Yakni serambi depan, ruang kredensial, ruang tamu/ruang jamuan, ruang resepsi, ruang bendera pusaka dan teks proklamasi. Kemudian ruang kerja, ruang tidur, ruang keluarga atau istirahat, dan pantry (dapur).

Sebelum memasuki Istana, pemerhati Sejarah, Alwi Shahab, kepada rombongan menjelaskan seiring berkembangnya fungsi Istana Negara, dibutuhkan bangunan baru yang dapat mengakomodasi kegiatan pemerintahan.

Atas pemikiran itu, Istana baru segera dibangun. “Pembangunan Istana Merdeka berlangsung pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal JW Lansberge pada 1873,” kata Abah.

Pembangunan Istana ini diarsiteki Drossares. Setelah selesai, Istana ini lebih kenal sebagai Istana Gambir. Namun, saat Indonesia mencapai kemerdekaannya, nama Istana ini berubah menjadi Istana Merdeka.

Abah mengungkapkan sejak masa pemerintahan Belanda dan Jepang sampai masa pemerintahan Republik Indonesia, sudah lebih dari 20 kepala pemerintahan dan kepala negara yang menggunakan Istana Merdeka sebagai kediaman resmi dan pusat kegiatan pemerintahan negara.

Sebagai pusat pemerintahan negara, kini Istana Merdeka digunakan untuk penyelenggaraan acara-acara kenegaraan, antara lain Peringatan Detik-detik Proklamasi, upacara penyambutan tamu negara, penyerahan surat-surat kepercayaan duta besar negara sahabat, dan pelantikan perwira muda (TNI dan Polri).

“Sepeninggal Presiden Soekarno, tidak ada lagi presiden yang tinggal di sini, kecuali Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden Soeharto yang menggantikan Soekarno memilih tinggal di Jalan Cendana,” pungkas Abah.


Memuat...

Tanya Dokter

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.