Kiat Menghadapi Bos yang Arogan

Oleh: Marmi Panti Hidayah

Bekerja dengan pimpinan bersikap arogan dan sok berkuasa tentu tidak nyaman. Pimpinan semacam ini biasanya tidak mudah menerima pendapat staf. Ia cenderung merasa kebijakannya selalu benar dan harus dipatuhi bawahannya.
Sebagian karyawan terpaksa mengikuti kata-kata bos, meski hatinya sesak. Sebagian lain mungkin memilih mundur dari pekerjaan sebagai jalan terbaik.

Bagaimana seharusnya menyikapi arogansi pimpinan?

Baiturokhim, pendiri Lembaga Bantuan Psikologi Islam Indonesia menjelaskan, pemimpin model ini cenderung angkuh dengan jabatannya, sehingga tak jarang keluar ancaman untuk memecat stafnya yang kritis. “Jika dalam kondisi tersebut ada staf yang reaktif, sok jago, dan bermental pimpinan, justru akan membuat iklim kerja terganggu,” jelasnya.

Psikolog yang berkantor di Bogor ini menganalisis, ada tiga sikap staf dalam menghadapi model arogansi pimpinan: menghadapi dengan cara emosional agresif, submisif pasif, atau asertif.

Berikut penjelasan dampak ketiga sikap tersebut dan rekomendasi Baiturokhim;

1. Menghadapi pimpinan dengan cara emosional agresif sangat tidak dianjurkan. Sebab, status seorang staf lebih lemah di hadapan pimpinan. Ketersinggungan pimpinan atas cemoohan staf seringkali berakibat fatal. Hal ini karena pimpinan memiliki wilayah kekuasaan dari rasional hingga tidak rasional. Dampaknya, staf yang emosional agresif bisa langsung mendapat Surat Peringatan Akhir (SP-3) hingga pemecatan.

2. Menghadapi dengan cara submisif pasif juga tidak dianjurkan. Ini adalah saat staf sangat tersinggung dengan arogansi pimpinan, namun tetap bertahan, pasif, cuek, dan bungkam. Mereka takut memberikan masukan, khawatir akan berbuntut pemecatan. Sikap staf seperti ini berdampak buruk, baik untuk sistem perusahaan maupun mentalitas pribadi.

Secara sistem, sikap tersebut menciptakan perilaku munafik bagi staf dan membuat produktivitas kerja tidak maksimal. Dalam jangka waktu lama akan menghancurkan organisasi perusahaan. Sementara secara pribadi, masalah tersebut akan menyebabkan staf menjadi stres atau frustrasi yang berdampak ke banyak hal lain.

3. Baiturokhim merekomendasikan staf menghadapi pimpinan dengan cara asertif. Misalnya, karyawan memberanikan diri meminta waktu khusus untuk berkomunikasi dengan pimpinan terkait sikapnya. Dengan catatan, staf tersebut mampu menyampaikannya dengan cara elegan, strategis, dan nyaman, sehingga pimpinan mau menerima.

“Jika mampu, staf seperti ini tergolong orang yang berkualitas super, memiliki mental prima untuk melakukan perubahan walau dengan kemungkinan risiko,” katanya. 

Baiturokhim mengungkapkan, dalam kajian psikologis, seseorang yang bersikap arogan sebenarnya tidak selamanya bersikap seperti itu. Ia tetap manusia biasa yang bisa tersenyum dan bercanda dengan orang yang dicintainya.
Oleh karena itu, perlu teknik komunikasi sebagaimana direkomendasikan.

Selain itu, substansi isi pesan yang disampaikan juga sangat penting. Ketika menyampaikan, staf tidak cukup memaparkan persoalan dan keluhan. “Akan tetapi lebih pada argumentasi dan solusi yang secara rasional dan perasaan bisa diterima,” ujarnya.

Jika langkah tersebut tak membawa perubahan, keputusan dikembalikan pada staf. Apakah mau bertahan di kantor dalam situasi tidak nyaman, atau memutuskan keluar kerja. “Namun kami bisa merekomendasikan staf untuk berpikir baru, menyusun skenario baru agar terbebas dari pimpinan arogan. Menuju pengembangan karier yang lebih maju,” katanya.

Sebab, jika staf terus bertahan, maka mental mereka semakin terkerdilkan dan bisa menghancurkan karier. Untuk ke depannya, staf juga akan menjadi arogan karena telah mendapatkan pelajar dari seniornya selama bertahun-tahun.
“Rencana untuk mundur dan mencari pekerjaan dengan lingkungan baru yang lebih nyaman bisa dilakukan,” tandasnya.



BACA JUGA:

Dulu teman, sekarang jadi bos
5 hal yang tak boleh diucapkan kepada bos
Cara tepat minta naik gaji
Lima tanda Anda mungkin akan dipecat
10 tanda Anda harus pindah kerja
Ciri-ciri pegawai yang tidak disukai bos

Memuat...

Tanya Dokter

  • Makanan Penghilang Sakit Kepala
    Makanan Penghilang Sakit Kepala

    Perlu Anda ketahui bahwa ada beberapa makanan yang dipercaya dapat menghilangkan rasa sakit kepala Anda. …

  • Kehamilan Setelah Keguguran
    Kehamilan Setelah Keguguran

    Keguguran pada kehamilan biasanya terjadi sebelum usia kandungan 20 minggu. Lalu apa saja yang harus diperhatikan jika ingin hamil lagi setelah mengalami keguguran? Dan, mengapa seseorang yang ingin hamil lagi setelah mengalami keguguran harus menunggu selama tiga bulan? …

  • Mitos dan Fakta Antibiotik
    Mitos dan Fakta Antibiotik

    Banyak mitos-mitos yang beredar mengenai antibiotik yang sebaiknya anda ketahui terlebih dahulu. …

  • Segudang Manfaat Teh Hijau
    Segudang Manfaat Teh Hijau

    Dibalik rasanya yang lezat, teh hijau atau green tea rupanya juga menyimpan segudang manfaat yang baik untuk tubuh …

  • Makanan Penurun Kolesterol
    Makanan Penurun Kolesterol

    Jika ingin sehat, Anda memang diharuskan mengonsumsi makanan bergizi untuk meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) dan menjauhi makanan yang dilarang. …

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.