Menkes dan Kanker Paru

Liputan6.com, Jakarta: Meninggalnya Menteri Kesehatan Endang Rahayu Widyaningsih bukan hanya duka bagi jajaran Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Tapi juga kesedihan bagi masyarakat luas. Kesederhanaan dan kegigihan almarhumah dalam meningkatkan kesehatan masyarakat kecil meski dalam keadaan sakit dikenang oleh banyak pihak.

Almarhum meninggal karena penyakit kanker paru-paru. Siapa sangka sepak terjang Menkes mesti terhenti karena kanker paru-paru Sekitar 1,5 tahun, sejak pemeriksaan kesehatan Oktober 2010, kanker paru menggerogoti habis kesehatan Menkes.

Dalam sebulan terakhir, kanker paru juga memaksa Endang Rahayu beristirahat total dari kerja kerasnya di Paviliun Kencana RSCM. Saat itulah Menkes mengajukan pengunduran diri yang akhirnya diamini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Pendiam namun tak henti bekerja keras bagi rakyat. Itulah di antara kesan yang ditinggalkan almarhumah.

Konsistensi yang sudah terlihat sejak awal pengabdiannya berpuluh tahun lalu, termasuk ketika menjadi kepala Puskesmas Kecamatan Waypare, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, hingga terpilih menjadi Menteri Kesehatan.

Perjalanannya sebagai menteri penuh cerita sedari awal. Terpilih sebagai Menkes, nama Endang mencuat di saat terakhir. Saat kandidat menteri sebelumnya tak lolos kesehatan. Meski diterpa isu pro-Namru, laboratorium milik Amerika Serikat, Endang tetap tekun mengabdi.

Dia peduli dalam kesehatan ibu dan anak, pemberantasan penyakit menular, dan kesehatan masyarakat kecil. Itu menjadi perjuangan keseharian Menkes.

Namun semua terhenti karena kanker paru-paru. Berkaca dari kasus Menkes, ada baiknya masyarakat melek soal tindakan pencegahan terhadap kanker paru.

Asap rokok seringkali diidentikkan dengan penyebab kanker jenis ini. Probabilitasnya 90 persen pada pria dan 70 persen pada wanita. Perokok aktif dan perokok pasif ternyata memiliki peluang yang sama besar terkena.

Sebab lain seperti makanan yang mengandung zat-zat karsinegonik dan zat yan terhirup di tempat beraktivitas seperti asbes dan klorometi leter juga patut diwaspadai. Curigai gejala batuk terus menerus, dahak berdarah, napas sesak, suara parau, sebagai gejala mengarah kanker paru. Yang tak kalah penting saat terkena vonis kanker, mentalitas berpikir positif dalam menjalani kegiatan sehari-hari mesti terus dipegang.

Kutipan tulisan Endang tertanggal 13 April 2012 dalam pengantar sebuah buku tentang kanker sekali lagi menggambarkan semangat pantang menyerah penderita kanker hingga titik darah penghabisan. Berikut kutipannya: Tetapi saya tidak bertanya, why me Saya menganggap ini adalah anugerah dari Allah SWT. Bagi rekan-rekanku sesama penderita kanker dan survivor, mari kita berbaik sangka kepada Allah. Mari lakukan sebaik-baiknya apa yang bisa kita lakukan hari ini. Kita lakukan sepenuh hati. Dan jangan lupa, nyatakan perasaan kita kepada orang-orang yang kita sayangi. Bersyukurlah kita masih diberi kesempatan untuk itu.(ULF)

Memuat...

Tanya Dokter

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.