Rumah Tangga Dihantui Trauma Perceraian Orangtua

Tanya:
Hai Mas Hilbram, saya menikah sudah 2 tahun dan mempunyai anak berusia 5 bulan. Sejak kelahiran anak, konflik antara saya dan suami saya jadi sering muncul, karena masalah-masalah kecil yang akhirnya membuat kami saling diam. Sejak mempunyai anak entah mengapa perasaan saya menjadi seperti campur aduk, perasaan trauma karena saya seorang anak broken home, jadi saya takut suami saya akan selingkuh seperti orangtua saya dulu, akibatnya setelah saya punya anak dan saya berkerja di salah satu perusahaan swasta, saya seakan sudah tidak mencintai suami lagi karena saya takut suami saya selingkuh suatu hari nanti. Makanya saya tidak berani mencintai dia terlalu dalam.

Tapi yang menjadi masalah dalam hidup saya sekarang ini, saya tidak pernah merasakan kebahagian dan tidak tahu rasanya bahagia itu seperti apa sejak menikah dan mempunyai anak. Saya harus bagaimana? Bagaimana caranya menumbuhkan rasa cinta kepada suami saya secara utuh dan tanpa ada rasa ketakutan sedikitpun?
Nina, 26 tahun

Jawab:
Hai Nina,

Walaupun suram, masa lalu sudah dilewati, jangan lagi ditakuti. Sedangkan masa depan walaupun belum jelas, harus dihadapi, sambutlah dengan rasa senang di hati.

Menjadi orangtua adalah sebuah proses alami yang mendewasakan diri seseorang. Dalam kedewasaan tersebut sering juga berbagai rasa bercampur aduk menjadi satu, yang membuat seseorang memikirkan banyak hal. Untuk Nina, ini adalah rasa trauma akan masa lalu.

Setiap manusia punya jalan hidupnya masing-masing yang terbentuk dari sikap keseharian dan doa kepada Tuhan.

Janganlah Nina berfokus pada rasa takut akan kemungkinan suami selingkuh. Hal ini akan membuat suami merasa tidak nyaman karena selalu dicurigai tanpa alasan.

Rasa takut akan suami selingkuh yang dirasakan itu bukanlah tanda Nina tidak mencintainya, tapi itu justru menunjukkan kalau Nina masih mencintainya. Karena lawan cinta bukanlah benci, tapi tidak peduli. Dengan cinta (yang benar) sedalam rasa, kebahagiaan yang tercipta akan semakin mendekatkannya kepada Nina. Lalu sisanya Nina isi dengan doa, agar Tuhan melindungi keindahan cinta dalam kesetiaan sepanjang usia.

Untuk rasa bahagia yang tidak pernah Nina rasakan, saya rasa, malah sebaliknya. Nina sudah bahagia (walau belum menyadarinya). Nina memiliki pasangan hidup yang menghadiahkan seorang anak. Banyak orang yang sangat merindukan hal ini, sementara Nina sudah mendapatkannya. Nina merasa takut kehilangan sang suami karena tak mau kebahagiaan ini direnggut. Kebahagiaan berikutnya yang akan Nina dapatkan adalah dengan menjaga keutuhan rumah tangga tanpa rasa takut yang berlebihan.

Mencintai secara utuh bukanlah mencintai tanpa rasa takut, tapi mengendalikan rasa takut dengan memberikan perhatian yang menyamankan.

Terima kasih sudah berbagi.


@HilbramDunar


Pembawa acara TV dan Radio.
Penulis buku “Plastic Heaven – bukan cinta jika tak meneteskan airmata, karena sedih luar biasa atau bahagia tak terhingga.”
Buku "Plastic Heaven" bisa didapat di sini.


***

Punya pertanyaan seputar masalah asmara, keuangan, kesehatan, kecantikan, atau fashion? Kirim ke tanyaahli@yahoo-inc.com

Memuat...

Tanya Dokter

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.