Saking Enaknya Bubur Ayam Cianjur Jadi Langganan Artis

TRIBUN JAKARTA - Bukan perkara sulit menemukan bubur ayam di Jakarta. Kalau malas keluar rumah, tinggal tunggu tukang bubur lewat.

Atau kalau lagi ngidam, tinggal cari di lingkungan sekitar pasti ada yang jualan bubur ayam.

Lagi pula jenis makanan satu ini banyak macamnya. Ada bubur ayam cirebon, bubur ayam medan, bubur ayam manado, dan tidak ketinggalan bubur ayam cianjur. Tinggal tentukan saja motivasinya, apakah sekadar melenyapkan rasa lapar ataukah masalah selera.

Nah, kalau kebetulan opsi kedua yang dipilih dan lagi ngidam bubur Cianjur, tak ada salahnya meluncur ke Ciputat, Tangerang Selatan. Persisnya di Jalan Dewi Sartika, dekat Pasar Ciputat. Di kawasan itu ada warung bubur ayam yang cukup dikenal.

Warung bubur yang dikelola Hamdani ini terbilang cukup ramai meski buka menjelang maghrib sampai pukul tiga dini hari. Selewat maghrib sampai jelang sahur itulah sepertinya nikmat menyantap seporsi bubur ayam Cianjur yang hangat.

Sekilas bubur ayam Hamdani ini tak ada bedanya dengan yang lain. Aksesori yang ditaburkan pun sama. Ada suwiran daging ayam, taburan kedelai goreng, bawang goreng, irisan daun bawang, dan ada pula kerupuk sebagai topping.

Khusus kerupuk, Bubur Cianjur menggunakan kerupuk khas Cianjur yang berwarna putih dengan rasa yang netral.

Bedanya ya pasti menyentuh lidah. Rasanya pas dan mantap. Rasa pedas, asin, gurih, menyatu dalam mulut. Sampai sendok terakhir, rasanya tak berubah. Usut punya usut, ternyata Hamdani punya senjata khusus mengapa rasa buburnya begitu nikmat.

Pertama, Hamdani tidak asal memakai kecap asing. Dia mempercayakan bumbu bewujud cairan dan berwana hitam ini kepada kecap asin merek Patkwa keluaran Sukabumi, yang banyak dipakai pedagang bubur sukabumi dan bubur cianjur.

Kedua adalah konsistensi Hamdani yang menggunakan beras pandan wangi dari Cianjur. Dia kapok menggunakan beras di luar Cianjur karena rasanya jauh dari ekspektasi. "Kurang gurih," kata lelaki 32 tahun ini.

Proses memasak juga menjadi kunci kenikmatan bubur cianjur ini. Hamdani menanak beras hingga menjadi bubur selama dua jam di dalam dandang besar ukuran 50 liter.

Komposisinya, 5 kilogram beras dicampur dengan air sebanyak 40 liter. "Berasnya seperempat dandang, tiga-perempatnya lagi air," ujar Hamdani berbagi resep dapurnya. Tapi mengolahnya tak sampai di situ. Hamdani menambahkan sekilogram beras ketan agar buburnya sedikit liat dan tak encer.
 
Bukan urusan rasa saja yang klop dengan lidah, tapi juga urusan kantong. Meski bahan bakunya kelas premium, tapi dalam urusan harga per porsinya jauh dari kesan mahal. Hamdani hanya memungut Rp 7 ribu per porsinya.

Satu lagi yang menarik. Bila cukup beruntung, siapa tahu bisa ditemani artis bersantap bubur. Maklumlah, Pelanggannya tak hanya masyarakat biasa, ada juga dari kalangan artis. Contoh, personel band Wali dan Samsons. Tetapi, "Saya tidak hafal namanya," kata Hamdani. (Kontan)

Baca berita selengkapnya di koran digital TRIBUN JAKARTA

Baca artikel menarik lainnya

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.