Tangisan, Senjata Andalan Perempuan yang Dibenci Laki-laki?

HE says:

“Drama queen! Benci banget tiap membahas satu hal ujungnya bukannya masalah selesai dengan damai, yang ada malah menenangkan anak orang yang sibuk menghabiskan stok air mata.”

-Adhitya, 24 tahun, mechanical engineer-

“Butuh simpati saja, tuh. Basi kalau masih menganggap laki-laki luluh dengan air mata. Perempuan yang mengumbar air mata cuma akan dikasihani karena kelihatan lemah. Jangan salahkan kami kalau lama-lama menjauh karena bosan.”

-Iwan, 25 tahun, restaurant manager-

“Kasihan awalnya, tapi kalau keseringan malas juga. Dari yang awalnya mengalah, sekarang masa bodohlah.”

-Rio, 27 tahun, recruitment & training supervisor-

“Sudah tahu itu jurus perempuan supaya kita luluh, tapi tetap aja kalau lihat perempuan menangis nggak tega. Jadi ingat ibu dan adik perempuanku. Membuatku merasa serba salah.”

-Aksara, 23 tahun, mahasiswa-

“Tergantung konteks. Ada perempuan yang menangis untuk melindungi diri, ada yang karena luapan perasaan. Aku lebih menghargai mereka yang meluapkan perasaan, karena jujur. Kalau yang melindungi diri akan kelihatan tidak tulus, kok.”

­-Domon, 28 tahun, plant officer-

 

SHE says:

“Aku menangis karena nggak bisa menahan perasaan, entah senang atau sedih. Bisa juga air mata keluar karena sakit hati. Laki-laki yang nggak bisa menghargai tangisan perempuan berarti bukan laki-laki yang perhatian, nggak peka dan nggak punya perasaan. Walau kuakui, kadang aku menangis cuma untuk membuat seseorang luluh.”

-Dian, 26 tahun, accounting-

“Aku selalu berusaha terlihat kuat di depan laki-laki. Makanya, kalau mau menangis lebih nyaman sembunyi, tidak mau terlihat lembek. Laki-laki, aku rasa, akan lebih menghargai aku yang kuat.”

-Jocelyn, 26 tahun, branding & marketing staff-

“Tidak semua perempuan cengeng, kok. Saat ini perempuan di sekelilingku juga kelihatan jauh lebih kuat dan mandiri. Kita mengandalkan harga diri dan strategi untuk menghadapi laki-laki, bukan dengan tangisan lagi.”

-Astri Sarah, 25 tahun, sales executif-

“Ketika berdebat, aku maunya menang karena memang aku benar, bukan menang karena tangisan yang membuat lawan debat mau tak mau menyerah.”

-Anindita, 25 tahun, writer-

“Kalau aku menangis di depan laki-laki, berarti dia orang yang spesial karena bisa melihatku yang apa adanya. Berbeda di depan orang yang aku benci, aku malah akan berusaha tegar walau sakit hati. Tangisan bukan untuk mencari perhatian, tapi memang karena keadaan memaksaku mengeluarkan air mata.”

-Winda, 27 tahun, cook helper -

 

Tangisan, bagi beberapa perempuan, adalah ungkapan isi hati, yang tak dipungkiri terkadang juga menjadi alat untuk “melemahkan” laki-laki. Sementara itu, beberapa laki-laki menganggap tangisan perempuan mengandung unsur politis, walaupun tetap masih ada yang merasa iba. Laki-laki yang merasa iba pun bisa jadi sebenarnya menyimpan perasaan lain yang juga mengganggunya, seperti merasa diri sendiri tak berguna, panik tapi tidak tahu harus bagaimana menghadapi tangisan kita, sampai jenuh.

“Perempuan itu sebenarnya lebih beruntung bisa menumpahkan perasaan dengan curhat dan menangis. Kalau kita, laki-laki, lebih tersiksa karena cuma bisa menahan perasaan, tertekan tanpa bisa melampiaskannya. Tapi, kadang kita merasa tangisan mereka cuma untuk memanfaatkan kelemahan kita yang tak tegaan. Hasilnya, lagi-lagi kita yang mengalah, menuruti saja apa maunya,” kata Rio. Tak salah ia berpandangan begitu, sesuai dengan pengalaman pribadinya. Tapi, apa semua perempuan punya motivasi di balik tangisannya? “Tentu tak adil memukul rata seperti itu. tergantung kepribadian dan kepentingan masing-masing,” ungkap Astri Sarah.

"...lebih baik belajar melihat permasalahan dari perspektif pasangan masing-masing, sehingga timbul perasaan saling menghargai dan bisa saling meminimalisasi pikiran negatif untuk menciptakan hubungan yang sehat."

Jika kamu membaca 21 Ways to Defuse Anger and Calm People Down, Michael Staver sempat menyinggung bahwa menuruti kemauan atau mengiyakan pendapat pasangan, ketika menangis sekalipun, bukan tindakan yang tepat. Sebagai laki-laki, pada akhirnya pasangan akan jenuh dan merasa dirinya jadi pihak yang bersalah, sementara kita dianggapnya selalu merasa paling benar. Karena itu, Staver menyarankan lebih baik belajar melihat permasalahan dari perspektif pasangan masing-masing, sehingga timbul perasaan saling menghargai dan bisa saling meminimalisasi pikiran negatif untuk menciptakan hubungan yang sehat.

Sementara, sebagai perempuan, mengungkapkan perasaan dengan menangis sah saja, asalkan tak menjadi cengeng dan mengandalkannya untuk memojokkan orang lain. Jangan sampai tangisan sebagai ekspresi saat menghadapi masalah personal diartikan negatif, saran psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani dari Medicare Clinic. “Karena personal, tidak ada ukuran khusus harus berapa lama, bagaimana melepaskannya, dan sebagainya. Bergantung pada kepribadian dan kedewasaan seseorang, juga masalah yang jadi pemicunya,” ungkap Anna.

Intinya, berasal dari tempat berbeda, men are from Mars, women are from Venus, sikap dan cara memandang sesuatu pun sangat wajar jika berbeda. Masing-masing punya keunikan. Laki-laki begitu mencintai dunianya sendiri saat berkutat dengan suatu masalah, sementara perempuan lebih terbuka dan ekspresif mengungkapkan perasaannya, salah satunya lewat tangisan. Perbedaan itu menjadi selaras dalam kebersamaan dan komitmen untuk saling menerima apa adanya. Itulah mengapa bersatunya makhluk-makhluk dari planet berbeda ini menjadi begitu unik dan manis!

Memuat...

Tanya Dokter

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.