Wayang Kulit Terancam Punah, Banyak Dalang Sepi Penonton

Laporan Wartawan Tribunnews, Eko Sutriyanto

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
Dunia seni wayang kulit Indonesia kini menghadapi problem yang serius. Bukan terkait jumlah dalang, tapi  jumlah penonton kian lama kian menyusut.

"Kalau dari segi jumlah dalang, kita mencukupi. Kita mempunyai perguruan tinggi yang mempunyai jurusan pedalangan, sanggar wayang di seluruh Indonesia. Saat ini jumlah dalang hampir 2000-an, tapi penonton makin sedikit, " tutur Suparmin Sunjoyo, Ketua Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Sena Wangi) di sela-sela konferensi pers Wayang Summit di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, Kamis (22/11/2012).
 
Dikatakan, saat ini 80 persen penonton wayang berusia di atas 50 tahun. Untuk itu, pihaknya telah mengusulkan untuk memasukan wayang menjadi bagian kurikulum di pelajaran sekolah. "Sayangnya sampai sekarang belum direspon. Kenapa perlu masuk kurikulum karena akan menjadi kewajiban," katanya.

Lantas bagaimana mendorongnya supaya wayang tetap eksis? Di samping mengenalkan  sejak dini di sekolah, kita mengikuti selera yg diinginkan, misalnya menggunakan bahasa Indonesia. "Durasi diganti dari semalam suntuk jadi 2-3 jam dan cerita menyangkut situasi sekarang. Juga gending, instrumen yang akan jadi daya tarik," kata mantan Duta Besar Indonesia untuk Suriname ini.


Baca Artikel Menarik Lainnya

  • Relationship
    25 Persen Wanita Bermasalah dengan Ibu Mertua 1 jam lalu
  • Diet
    Badan Langsing Tapi Perut Buncit, Ini Dia Sebabnya 1 jam lalu
  • Jangan Anggap Sarung Itu Kuno 2 jam lalu
  • Ingin Tampil Cantik Saat Natal? Ikuti Trik Berikut 6 jam lalu
  • Warna Terang Mengesankan Ruang Tamu Lebih Lapang 6 jam lalu
  • Make-up Warna Tua Bakal Jadi Tren 2013 7 jam lalu
  • Angciu dan Minyak Wijen Bedakan Aroma Bubur Ayam Ini 8 jam lalu
  • Matte Foundation Hilangkan Kesan Mengkilap Pada Wajah 9 jam lalu
  • Karier
    Agar Sukses Wawancara Kerja, Begini Trik Menjawabnya Rabu, 21 November 2012
  • Bahan Alami Ini Hilangkan Bau Apek Dalam Lemari Rabu

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.